Makna Hari Raya Nyepi dan Urutan Pelaksanaannya yang Menarik untuk Diketahui

- 3 Maret 2022, 10:06 WIB
Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali.
Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali. /Image from unsplash.com by Ruben Hutabarat
 
Media Magelang - Umat Hindu di Indonesia, khususnya yang ada di wilayah Bali merayakan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 3 Maret 2022.
 
Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun di bulan Maret atau April oleh seluruh umat Hindu Indonesia.
 
Selama Hari Raya Nyepi berlangsung, semua kegiatan khususnya di Bali dihentikan total.
 
Sejumlah tempat pelayanan umum bahkan bandara internasional I Gusti Ngurah Rai juga berhenti beroperasi sejenak dari tanggal 3 Maret 2022 pukul 06.00 WITA sampai tanggal 4 Maret 2022 pukul 06.00 WITA.
 
 
Namun ada beberapa tempat pelayanan umum tertentu yang masih dibuka saat Hari Raya Nyepi untuk kepentingan darurat seperti rumah sakit, kantor polisi, dan hotel.
 
Sebagai bagian dari kebhinekaan yang ada di Indonesia, akan sangat menarik untuk mengetahui dan mengulik apa makna sebenarnya dari Hari Raya Nyepi dan bagaimana urutan pelaksanaannya.
 
Hari Raya Nyepi dapat diartikan sebagai hari penyucian diri manusia dan alam sekitar.
 
Hari Raya Nyepi merupakan perayaan dalam tahun baru Saka yang terdudi kalender Saka, yang digunakan oleh umat Hindu sebagai acuan penanggalan kegiatan sehari-hari.
 
Melalui Nyepi, umat Hindu khususnya warga Bali melaksanakan serangkaian upacara adat. 
 
Hari Raya Nyepi juga menjadi syarat bagi umat Hindu dalam menyambut tahun baru Saka. 
 
Saat Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali berupaya menahan hasrat untuk tidak keluar rumah, bekerja, menghidupkan perapian, maupun mengujarkan atau mengatakan kalimat-kalimat tertentu. 
 
 
Tindakan pengendalian diri tersebut dilakukan dengan Catur Brata Penyepian, yang mana umat Hindu dapat dengan khusuk mengevaluasi diri sendiri.
 
Secara umum, tujuan dari perayaan atau pelaksanaan Hari Raya Nyepi adalah untuk mengoreksi atau membersihkan diri sendiri baik dari segi perilaku, pikiran, hati maupun ucapan dalam suasana hening dan sepi.
 
Hari Raya Nyepi itu sendiri memiliki urutan pelaksanaan yang mengandung makna di setiap kegiatannya.
 
• Adapun upacara pertama yang harus dilakukan yaitu upacara Melasti yang dilakukan sebelum Hari Raya Nyepi tiba.
 
Segala peralatan sembahyang atau yang disebut sebagai pretima, yang ditempatkan di Pura disucikan di laut atau sungai.
 
Perlu diketahui, bagi umat Hindu, laut diyakini sebagai sumber Tirtha Amertha, yaitu air suci yang membuat kehidupan abadi.
 
Melasti atau penyebutan lainnya adalah melelasti memiliki arti menghanyutkan kotoran dari alam dengan air kehidupan.
 
• Setelah Melasti dilanjutkan dengan upacara Tawur atau Mecaru.
 
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan setiap rumah, desa dan wilayah lainnya dari segala kotoran dan keburukan.
 
Pelaksanaan Mecaru jatuh pada hari Tilem Sasih Kesange (bulan mati kesembilan), satu hari sebelum Nyepi. 
 
• Kemudian ada upacara Pengerupukan yang bermakna mengusir Bhuta Kala atau keburukan dari pekarangan rumah dan lingkungan sekitar.
 
Upacara ini diadakan setelah Mecaru dengan menabur nasi, menyalakan lilin atau obor dan berkeliling di dalam serta pekarangan rumah, menyemburi rumah dengan bubuk mesiu, dan memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara atau gaduh.
 
• Urutan pelaksanaan yang terakhir dalam Hari Raya Nyepi adalah Ngembak Geni yang dapat dimaknai sebagai ajang pengakuan diri dari segala dosa dan kesalahan, serta merasa lebih ikhlas terhadap segala hal.
 
Perwujudan dari Ngembak Geni dilakukan usai Hari Raya Nyepi, yaitu dengan saling bermaafan kepada keluarga, kerabat, saudara, tetangga maupun teman.
 
Dengan mengetahui makna dan urutan pelaksanaan Hari Raya Nyepi, diharapkan untuk bisa merenungi kesalahan diri, kemudian memperbaikinya agar memiliki kesiapan dalam menghadapi hari esok.***
 

Editor: Sonia Okky Astiti

Sumber: bulelengkab.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah